Relationship itu Rumit

Relationship itu Rumit

Akhir-akhir ini, di saat saya sudah menyelesaikan kuliah dan masih malas belum bekerja, membuat saya memiliki sangat banyak waktu luang. Hal ini membuat saya seringkali melamun, memikirkan hal remeh-temeh seperti mau makan apa, ke mana saya akan pergi, hingga bagaimana cara ikan tidur. Lamunan saya tidak berhenti di situ. Saya juga kerap kali membayangkan masa depan yang warnanya masih abu-abu, seperti apa yang akan saya lakukan setelah lulus kuliah, tipe pekerjaan seperti apa yang sekiranya akan membuat saya betah, apakah saya akan tetap tinggal di Jakarta atau merantau seperti yang saya impikan sejak masih sekolah, hingga apakah saya akan mampu menemukan seseorang yang bersedia menghabiskan waktunya bersama saya hingga tua.

Beberapa hari yang lalu, di saat saya sedang sibuk berselancar di timeline Twitter, saya menemukan salah satu tulisan baru milik Bara yang berjudul Mencungkil Peluru dan Bertahan Hidup. Dapat diakses di sini. Jujur, tulisan itu cukup membuat saya tersedak lalu tersenyum getir. Saya berkali-kali bergumam “been there, done that” hingga akhirnya saya memutuskan untuk membuat tulisan ini.

“Mencintai adalah satu hal, berada dalam relationship hal lain. Kamu tidak bisa cuma bermodal cinta untuk punya hubungan langgeng sampai mati.” – Bernard Batubara

Kalimat tersebut membuat saya berteriak “setuju!” di dalam hati. Untuk sebagian orang, “mencintai tidak harus memiliki” hanyalah kalimat bagi para pecundang yang tidak mampu memperjuangkan perasaannya. Namun menurut saya, banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk berada dalam relationship, karena bermodal cinta tidaklah cukup. Misalnya, suku dan agama saling berkaitan dengan restu orangtua. Belum lagi perihal pekerjaan, jika hubungan tersebut memang diarahkan ke jenjang yang lebih serius dari sekadar pacaran. Serta hal yang sangat mendasar seperti sifat dan kebiasaan, yang akan memengaruhi kecocokan antarindividu dalam menjalankan hubungan.

Segala pertimbangan tersebut membuat relationship menjadi perihal yang rumit, setidaknya bagi saya. Saya pernah berada pada hubungan yang tidak mendapatkan restu orangtua, baik dari pihak saya maupun pasangan saya di saat itu. Saya pernah ditinggalkan tanpa diberikan penjelasan, saya berkali-kali mengalami pengkhianatan, bahkan saya pernah menjalani hubungan yang rasanya memiliki harapan di masa depan, namun nyatanya kandas pun.

Hal-hal seperti ini membuat saya menyadari bahwa ada hal yang salah dalam diri saya, sebab semua hal yang terjadi pasti merupakan sebab-akibat. Mungkin saya belum siap untuk berada dalam relationship, mungkin masih banyak hal yang perlu saya pelajari sebelum memulai relationship, atau mungkin masih banyak hal lain yang lebih besar dan perlu saya perhatikan daripada sekadar relationship. Mungkin, semua poin yang baru saja saya uraikan hanya hasil dugaan saya semata. Saya pun tidak tahu persisnya seperti apa.

“Tidak ada yang lebih melegakan daripada membuang racun di tubuhmu. Kamu juga harus paham jangan-jangan kamu yang jadi racun bagi dia. Jika kamu telah menyadarinya dengan baik, jangan berlama-lama. Segera lepaskan. Kamu tidak berhak memerangkap seseorang yang kamu cintai dalam hubungan yang tidak membuatnya bertumbuh, begitu pula sebaliknya.” – Bernard Batubara


Note: Tulisan ini sudah mengendap di draft sejak September 2016, namun baru sempat saya publikasikan. Telat banget, ya. LOL!

Advertisements
Teruntuk, Kamu

Teruntuk, Kamu

break-up

Teruntuk, kamu. Terima kasih karena telah bersedia untuk menghabiskan waktumu bersamaku. Waktu yang tidak dapat dikatakan singkat, namun juga tidak cukup lama. Yang pasti, cukup banyak peristiwa yang patut dikenang selamanya.

Teruntuk, kamu. Terima kasih karena telah bersedia untuk memberikan telingamu, sebagai tempat untuk aku mencurahkan segala keluh kesahku. Tanpa mengenal lelah, tanpa mengenal waktu.

Teruntuk, kamu. Terima kasih karena telah bersedia untuk berusaha menuruti segala keinginanku. Dari keinginan bodoh hingga keinginan teranehku. “Kamu mau apa lagi?” adalah kalimat yang selalu keluar dari bibirmu.

Teruntuk, kamu. Terima kasih karena telah hadir sebagai sosok yang selalu ada untukku. Di hari-hari paling bahagiaku, hingga malam-malam terburukku. Hampir selalu ada kamu di situ, untuk sekadar menemaniku.

Teruntuk, kamu. Ku harap kamu bersedia untuk memaafkan segala kesalahanku. Yang tidak mampu menjadi sosok terbaik bagimu, dan tidak mampu pula untuk menemanimu selalu.

Bukan karena aku sudah tidak memiliki perasaan yang sama kepadamu.

Bukan pula karena ada orang lain yang lebih menarik perhatianku.

Maafkan aku yang tidak mampu membalas segala kebaikanmu. Tidak pula dapat menuturkannya satu per satu. Yang aku tahu, kamu adalah sosok terbaik yang telah mengisi hari-hariku. Seorang pria yang paling sabar dan paling tahan menghadapi segala tingkah anehku.

Terima kasih, kamu.

Hidup itu Lucu, Ya?

Hidup itu Lucu, Ya?

animals-black-white-couple-grunge-Favim.com-3322229

Hidup itu lucu, ya?

Kita dipertemukan dalam suatu keadaan yang tidak disengaja. Di keramaian, dimana kita hanya bisa saling menatap sebentar saja. Saling bertukar nama, lalu kembali mengerjakan kegiatan masing-masing setelahnya. Tidak ada yang spesial, hanya dua anak manusia yang saling berkenalan tanpa ada maksud apa-apa.

Waktu terus berjalan. Aku dengan kegiatanku, dan kamu dengan kesibukanmu. Kita sama-sama tidak tahu kalau kita akan dipertemukan lagi dalam keadaan yang tidak kalah lucu. Aku dengan kesakitanku, dan kamu dengan kebimbanganmu. Akhirnya keadaan pun menggiring kita hingga menjadi satu.

Berbagi kesenangan dan kesedihan bersama. Tanpa memedulikan masa lalu yang ada di belakang kita. Karena yang kita pedulikan hanyalah aku dan kamu, bersama. Menghabiskan waktu yang kita punya dengan sebaik-baiknya.

Sudah cukup banyak rencana yang telah kita punya. Baik sekadar besok mau ke mana, hingga kelak kita akan tinggal di mana. Semua sudah kita pikirkan bersama. Bahkan, kedua orang tua pun sudah menunjukkan dukungannya.

Namun, mau dikata apa. Tidak selamanya hidup berjalan sesuai dengan rencana kita. Bukan, bukan kamu yang salah. Bukan pula rasa sayangku yang tiba-tiba hilang entah kemana. Memang akunya saja yang masih butuh waktu untuk memantapkan segalanya.

Sekali lagi aku tegaskan, kamu tidak salah apa-apa. Hanya aku yang baru menyadari bahwa walaupun kita bersama, namun kita menuju arah yang berbeda. Kita memiliki tujuan yang sekilas nampak sama, namun tidak sejalan pada kenyataannya.

Sudahlah, sayang. Mari kita ikhlaskan segalanya. Tidak perlu kita lupakan rencana yang telah kita buat sebelumnya. Cukup jadikan semuanya sebagai pelajaran, untuk ke depannya. Agar aku dan kamu dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya.

Aside

Perpisahan

kata kata perpisahan kata kata kukatakan

Aku tidak pernah suka dengan perpisahan, sebab hanya terdapat dua kemungkinan. Menjadi yang meninggalkan, atau menjadi yang ditinggalkan.

Ku kira, menjadi yang meninggalkan itu lebih mudah. Kau hanya butuh mengucapkan kata pisah, lalu kau dapat melanjutkan hidupmu seperti biasa. Tanpa ada beban yang tersisa.

Karena ketika kau menjadi yang ditinggalkan, kau harus berkutat dengan segala kesedihan, dan kerap kali menyalahkan keadaan. Bahkan, melihat keadaanmu sendiri pun membuatmu kasihan.

Namun, ternyata aku keliru. Menjadi yang meninggalkan pun tidak semudah itu. Sebelum membuat keputusan, kau harus menguras otakmu. Setelahnya pun, kesedihan turut menghantuimu.

Sekarang, aku mendapatkan sebuah pelajaran. Tidak peduli siapa yang ditinggalkan, atau siapa yang meninggalkan. Selalu ada nyeri di dada di setiap perpisahan.

Aside

Dear, you.

Dear, you.

Thank you for the kindness. Thank you for taking care of me. Thank you for everything you have said, and the things you have made. Thank you for the laugh and happiness you had bring to my days. I’m so thankful to know you. It was a pleasent to have you as a friend. Yep! We were friend, and will always be friend. I’d really know that this friendship won’t ever change to relationship.

Sorry for being so cruel. Sorry if I’ve had hurt you without even noticing it. You were interesting, and I was interested, but…. For sure…… I can’t find out the chemistry between us. It was so sucks. I’m sucks.

I’d like you, but I couldn’t love you. I don’t wanna hurt you deeper. And I thought, leaving this stuff behind and living my life on my own way is the only thing I should do. This is my choice, and I hope you’ll understand. Just being friend and never thought about relationship, is the best thing for us. It’s more than enough. You’re a good boy, so you deserved better. Someday, somewhere, I believe you’ll find out the right girl for you, but that’s not me :)

Once again, I’m so thankful to know you. I’ve asked myself, why can’t I get the chemistry between us? Is it your fault? No! It’s a big no! Is it my fault? Um…. Absolutely….. Yes. This is my fault. It’s not an easy thing to make sure myself is this love or just an interested feeling, when I’ve being single for a long long time.

Okay, I thought it’s more than enough to show you what’s on my mind. Sorry if I’ve never told you, because you’ve never asked me about it, about my feelings, about what I thought about us. You always acted like there’s nothing wrong, but you didn’t know there’s a big storm in my heart and my mind…. Okay! Never mind! I gotta go from your life because I should living my own life in my own way without even noticing what other people thinks about it. The show must go on, rite? Okay! Good luck for your life, dude! Have fun and find out your Mrs. Right, okay? God bless you :)

Posted with WordPress for BlackBerry.