Perihal Kesedihan

Perihal Kesedihan

Untuk kamu yang sedang dilanda kebimbangan, jangan pernah takut untuk menentukan pilihan. Jangan terlalu pedulikan omongan orang tentang kamu harus begini-begitu, sebab kamu lah yang lebih tahu tentang apa yang kamu butuh dan mau.

Untuk kamu yang sedang dilanda kesedihan, jangan biarkan dirimu terpuruk dan dikuasai oleh rasa penyesalan. Sebab selalu ada pelajaran di balik semua kesedihan dan kesakitan.

Akan ada kalanya segala hal yang kamu tangiskan, akan menjadi bahan tertawaan. Akan ada kalanya segala air mata yang kamu teteskan, akan berubah menjadi sumber kebahagiaan.

Menyanyi lah, jika kamu merasa butuh hiburan. Menangis lah, jika kamu merasa tangisanmu dapat melegakan pikiran. Mengeluh lah, jika kamu merasa beban itu tidak dapat dipikul sendirian. Keluar lah, jika kamu merasa butuh pelukan. Berlari lah, jika kamu merasa butuh waktu untuk sendirian. Bicara lah, jika kamu merasa butuh pertolongan.

Satu hal yang harus selalu kamu yakinkan: semua hal akan berjalan dengan baik-baik saja. Kamu mungkin merasa lelah, namun kumohon, jangan pernah menyerah. Bersabarlah, segala permasalahan pasti dapat kamu temukan jalan keluarnya.

Anggap saja masalahmu itu hanya batu sandungan. Jangan biarkan mereka merenggut semua senyuman. Kamu berhak berbahagia, Sayang. Tunjukkan senyuman indahmu kepada semua orang. :)

Advertisements
Aku

Aku

tumblr_njz82anmkq1u95jvso1_500

Aku hanyalah manusia yang kacau. Diselimuti oleh ketakutan akan masa depan yang cukup besar, tanpa tahu ke mana arah yang kutuju. Terlalu banyak suara di dalam kepala yang tidak dapat kudengarkan satu per satu. Yang pasti, semuanya cukup menghantuiku.

Jika bisa, ingin rasanya aku menghentikan waktu. Untuk sekadar mengistirahatkan pikiranku, yang sudah terlalu letih namun tidak dapat berhenti mencari tahu.

Jika bisa, ingin rasanya aku menghentikan waktu. Untuk sekadar melihat diriku di masa lalu. Menyadari seberapa banyak ujian yang sudah kutempuh, serta menghitung keberkahan yang selalu mendampingiku.

Jika diberikan kesempatan, ingin aku berterimakasih kepada semua orang baik yang ada di sekitarku. Kepada mereka yang selalu memberikan dukungan tulus kepadaku, menyediakan telinga di saat kubutuh, menjadi sandaran ketika tubuhku terasa rapuh, memberikan saran di saat pikiranku terasa buntu, hingga menyelipkan namaku di setiap doa yang tidak kutahu.

Tanpa mereka, tidak mungkin aku mampu. Menjalani hari-hari tersulit dalam hidupku, dan menjadi aku yang (mungkin) lebih baik dari diriku di masa lalu.

Teruntuk, Kamu

Teruntuk, Kamu

break-up

Teruntuk, kamu. Terima kasih karena telah bersedia untuk menghabiskan waktumu bersamaku. Waktu yang tidak dapat dikatakan singkat, namun juga tidak cukup lama. Yang pasti, cukup banyak peristiwa yang patut dikenang selamanya.

Teruntuk, kamu. Terima kasih karena telah bersedia untuk memberikan telingamu, sebagai tempat untuk aku mencurahkan segala keluh kesahku. Tanpa mengenal lelah, tanpa mengenal waktu.

Teruntuk, kamu. Terima kasih karena telah bersedia untuk berusaha menuruti segala keinginanku. Dari keinginan bodoh hingga keinginan teranehku. “Kamu mau apa lagi?” adalah kalimat yang selalu keluar dari bibirmu.

Teruntuk, kamu. Terima kasih karena telah hadir sebagai sosok yang selalu ada untukku. Di hari-hari paling bahagiaku, hingga malam-malam terburukku. Hampir selalu ada kamu di situ, untuk sekadar menemaniku.

Teruntuk, kamu. Ku harap kamu bersedia untuk memaafkan segala kesalahanku. Yang tidak mampu menjadi sosok terbaik bagimu, dan tidak mampu pula untuk menemanimu selalu.

Bukan karena aku sudah tidak memiliki perasaan yang sama kepadamu.

Bukan pula karena ada orang lain yang lebih menarik perhatianku.

Maafkan aku yang tidak mampu membalas segala kebaikanmu. Tidak pula dapat menuturkannya satu per satu. Yang aku tahu, kamu adalah sosok terbaik yang telah mengisi hari-hariku. Seorang pria yang paling sabar dan paling tahan menghadapi segala tingkah anehku.

Terima kasih, kamu.

Hidup itu Lucu, Ya?

Hidup itu Lucu, Ya?

animals-black-white-couple-grunge-Favim.com-3322229

Hidup itu lucu, ya?

Kita dipertemukan dalam suatu keadaan yang tidak disengaja. Di keramaian, dimana kita hanya bisa saling menatap sebentar saja. Saling bertukar nama, lalu kembali mengerjakan kegiatan masing-masing setelahnya. Tidak ada yang spesial, hanya dua anak manusia yang saling berkenalan tanpa ada maksud apa-apa.

Waktu terus berjalan. Aku dengan kegiatanku, dan kamu dengan kesibukanmu. Kita sama-sama tidak tahu kalau kita akan dipertemukan lagi dalam keadaan yang tidak kalah lucu. Aku dengan kesakitanku, dan kamu dengan kebimbanganmu. Akhirnya keadaan pun menggiring kita hingga menjadi satu.

Berbagi kesenangan dan kesedihan bersama. Tanpa memedulikan masa lalu yang ada di belakang kita. Karena yang kita pedulikan hanyalah aku dan kamu, bersama. Menghabiskan waktu yang kita punya dengan sebaik-baiknya.

Sudah cukup banyak rencana yang telah kita punya. Baik sekadar besok mau ke mana, hingga kelak kita akan tinggal di mana. Semua sudah kita pikirkan bersama. Bahkan, kedua orang tua pun sudah menunjukkan dukungannya.

Namun, mau dikata apa. Tidak selamanya hidup berjalan sesuai dengan rencana kita. Bukan, bukan kamu yang salah. Bukan pula rasa sayangku yang tiba-tiba hilang entah kemana. Memang akunya saja yang masih butuh waktu untuk memantapkan segalanya.

Sekali lagi aku tegaskan, kamu tidak salah apa-apa. Hanya aku yang baru menyadari bahwa walaupun kita bersama, namun kita menuju arah yang berbeda. Kita memiliki tujuan yang sekilas nampak sama, namun tidak sejalan pada kenyataannya.

Sudahlah, sayang. Mari kita ikhlaskan segalanya. Tidak perlu kita lupakan rencana yang telah kita buat sebelumnya. Cukup jadikan semuanya sebagai pelajaran, untuk ke depannya. Agar aku dan kamu dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya.

Aside

Perpisahan

kata kata perpisahan kata kata kukatakan

Aku tidak pernah suka dengan perpisahan, sebab hanya terdapat dua kemungkinan. Menjadi yang meninggalkan, atau menjadi yang ditinggalkan.

Ku kira, menjadi yang meninggalkan itu lebih mudah. Kau hanya butuh mengucapkan kata pisah, lalu kau dapat melanjutkan hidupmu seperti biasa. Tanpa ada beban yang tersisa.

Karena ketika kau menjadi yang ditinggalkan, kau harus berkutat dengan segala kesedihan, dan kerap kali menyalahkan keadaan. Bahkan, melihat keadaanmu sendiri pun membuatmu kasihan.

Namun, ternyata aku keliru. Menjadi yang meninggalkan pun tidak semudah itu. Sebelum membuat keputusan, kau harus menguras otakmu. Setelahnya pun, kesedihan turut menghantuimu.

Sekarang, aku mendapatkan sebuah pelajaran. Tidak peduli siapa yang ditinggalkan, atau siapa yang meninggalkan. Selalu ada nyeri di dada di setiap perpisahan.