Aku dan Srikandi

Aku dan Srikandi

“Kamu ini perempuan apa, sih? Kok kalau bertindak di luar akal sehat semua,”

“Kamu ini beneran normal ngga, sih?”

Itu adalah segelintir komentar yang kerap kali orang lain berikan buat aku, baik dari teman dekat maupun teman yang ngga akrab-akrab banget. Terkadang, aku mikir. Emangnya aku ini kenapa, sih? Kok orang-orang suka komentar kayak gitu? Nih, aku coba ceritain salah satu kejadian yang bikin orang lain geleng-geleng kepala. Silakan kalian nilai sendiri, ya.

Dulu, aku pernah pacaran sama seseorang yang punya mobil pick-up dan truk kuning. Truk kuning di sini namanya Srikandi. Iya, kalian kebayang ngga, sih, itu yang mana? Nih, biar ngga bingung, aku kasih fotonya.

srikandi
Srikandi.

Nah, kebayang, kan? Aku emang senang banget kalau diajak jalan-jalan naik Srikandi. Senang karena sebelum pacaran sama Si Mas yang satu ini, aku belum pernah naik truk. Senang karena di saat naik Srikandi, pandanganku luas karena kaca depannya gede banget. Senang karena di saat naik Srikandi, orang-orang yang aku temui di jalan jadi berasa kecil banget. Pokoknya aku senang, lah. Seru! Sampai di suatu malam yang lagi kurang kerjaan, aku tiba-tiba bilang sama Si Mas Pacar (yang sekarang udah jadi mantan).

“Besok kamu sibuk, ngga?”

“Ngga, sih. Kenapa?”

“Setelah aku selesai kelas, kita jalan-jalan naik Srikandi, yuk? Dipakai, ngga?”

“Hm.. Kayaknya ngga, sih. Yaudah, boleh. Mau jalan-jalan ke mana?”

“Aku pengin cobain naik Srikandi ke mall, kan belum pernah,”

“SERIUS LO?”

“Iya, serius. Besok coba, ya?”

“Tapi panas, loh, kalau siang. Srikandi kan ngga ada AC-nya,” Si Mas Pacar (yang sekarang udah jadi mantan) pun mulai mencari alasan untuk menggagalkan rencanaku.

Aku cuma jawab, “Gapapa, yang penting kita ke mall naik Srikandi,”

“Hm.. Yaudah kalau gitu. Besok aku jemput di kampus, ya,”

“YEEEEY!”

Btw Si Mas Pacar (yang sekarang udah jadi mantan) ini memang orangnya baik banget. Dia hampir selalu nurutin semua kemauan aku, dari yang biasa aja sampai yang kurang masuk akal. Akhirnya, di keesokan hari, datang lah Si Mas Pacar (yang sekarang udah jadi mantan) ke kampus untuk jemput aku. Di kampus pun setiap orang yang liat ada truk kuning di parkiran, pasti ketawa.

Nah, pas Si Mas Pacar (yang sekarang udah jadi mantan) datang itu, aku lagi duduk di kantin sambil ngobrol sama beberapa temanku. Obrolan kami langsung berhenti sesaat karena teman-temanku ini langsung fokus ngeliatin Srikandi sambil bilang, “Wah, gila! Ini siapa yang bawa truk ke kampus? Ngaco, nih. Eh, tapi bentar. Itu truk PLN. Apa listrik di kampus kita lagi bermasalah, ya?”

Aku diam aja denger mereka kasak-kusuk kayak gitu. Sampai akhirnya Si Mas Pacar (yang sekarang udah jadi mantan) turun dari mobil, dan teman-temanku langsung bilang, “DI! ITU KAN LAKI LO! LO DIJEMPUT NAIK TRUK???”

Aku pun cuma bisa jawab, “Iya, hehe. Aku pulang duluan, ya,”

Akhirnya aku kabur meninggalkan teman-temanku yang masih ketawa sambil heran. Dari kampusku yang letaknya di Salemba, kami menuju ke salah satu mall yang ada di sekitar bundaran HI. Iya, pokoknya mall yang ada kata Indonesianya itu. *ditabok* Kami pergi ke sana naik Srikandi. Mudah? Oh, tentu tidak. Kami dihadang beberapa security karena satu dan lain hal. Intinya, Srikandi ngga boleh masuk ke parkiran customer.

Gimana akhirnya kami bisa parkir?

Hehe. Aku samperin security sambil ngerengek bilang, “Bapak, saya mau jajan. Emangnya kalau saya naik truk, ngga boleh jajan di sini, ya?”

Akhirnya kami pun diizinkan untuk parkir di loading dock. Woohoo! Btw menurutku sih enak parkir di loading dock, ya. Pertama, kami ngga perlu ribet-ribet cari parkir. Kedua, posisi pintu dari loading dock menuju lobby itu dekat banget, jadi kami ngga perlu jalan jauh.

Pas baru parkir pun, salah satu security nyamperin kami sambil melongok ke bak dan bilang, “Bawa barang apa, Mas? Atau mau ngecek listrik, ya?”

Si Bapak Security itu pun kaget pas liat aku turun dari mobil. Aku cuma jawab, “Ngga, Pak. Kami ngga bawa apa-apa, mau jajan aja,” Akhirnya si Bapak Security ini mempersilakan kami untuk masuk mall sambil cengar-cengir dengan wajah kebingungan.

Terus kami ngapain di sana?

Ngga ngapa-ngapain. Kami cuma makan siang lalu ngopi-ngopi sebentar, lalu yaudah, gitu doang. Karena niat kami memang cuma pengin coba naik Srikandi ke mall aja, sih. Akhirnya kesampaian dan aku senang banget! Woohoo!

Nih, foto aku dan Si Mas Pacar (yang sekarang udah jadi mantan) pas naik Srikandi.

IMG_20160830_023001.jpg
Biar adil, mukanya disensor aja. Aku juga gatau kenapa mesti pakai tengkorak, ya..

Nah, udah, segitu aja ceritanya. Menurut kalian gimana? Aku ngga aneh, kan? :)

Teruntuk, Kamu

Teruntuk, Kamu

break-up

Teruntuk, kamu. Terima kasih karena telah bersedia untuk menghabiskan waktumu bersamaku. Waktu yang tidak dapat dikatakan singkat, namun juga tidak cukup lama. Yang pasti, cukup banyak peristiwa yang patut dikenang selamanya.

Teruntuk, kamu. Terima kasih karena telah bersedia untuk memberikan telingamu, sebagai tempat untuk aku mencurahkan segala keluh kesahku. Tanpa mengenal lelah, tanpa mengenal waktu.

Teruntuk, kamu. Terima kasih karena telah bersedia untuk berusaha menuruti segala keinginanku. Dari keinginan bodoh hingga keinginan teranehku. “Kamu mau apa lagi?” adalah kalimat yang selalu keluar dari bibirmu.

Teruntuk, kamu. Terima kasih karena telah hadir sebagai sosok yang selalu ada untukku. Di hari-hari paling bahagiaku, hingga malam-malam terburukku. Hampir selalu ada kamu di situ, untuk sekadar menemaniku.

Teruntuk, kamu. Ku harap kamu bersedia untuk memaafkan segala kesalahanku. Yang tidak mampu menjadi sosok terbaik bagimu, dan tidak mampu pula untuk menemanimu selalu.

Bukan karena aku sudah tidak memiliki perasaan yang sama kepadamu.

Bukan pula karena ada orang lain yang lebih menarik perhatianku.

Maafkan aku yang tidak mampu membalas segala kebaikanmu. Tidak pula dapat menuturkannya satu per satu. Yang aku tahu, kamu adalah sosok terbaik yang telah mengisi hari-hariku. Seorang pria yang paling sabar dan paling tahan menghadapi segala tingkah anehku.

Terima kasih, kamu.

Hidup itu Lucu, Ya?

Hidup itu Lucu, Ya?

animals-black-white-couple-grunge-Favim.com-3322229

Hidup itu lucu, ya?

Kita dipertemukan dalam suatu keadaan yang tidak disengaja. Di keramaian, dimana kita hanya bisa saling menatap sebentar saja. Saling bertukar nama, lalu kembali mengerjakan kegiatan masing-masing setelahnya. Tidak ada yang spesial, hanya dua anak manusia yang saling berkenalan tanpa ada maksud apa-apa.

Waktu terus berjalan. Aku dengan kegiatanku, dan kamu dengan kesibukanmu. Kita sama-sama tidak tahu kalau kita akan dipertemukan lagi dalam keadaan yang tidak kalah lucu. Aku dengan kesakitanku, dan kamu dengan kebimbanganmu. Akhirnya keadaan pun menggiring kita hingga menjadi satu.

Berbagi kesenangan dan kesedihan bersama. Tanpa memedulikan masa lalu yang ada di belakang kita. Karena yang kita pedulikan hanyalah aku dan kamu, bersama. Menghabiskan waktu yang kita punya dengan sebaik-baiknya.

Sudah cukup banyak rencana yang telah kita punya. Baik sekadar besok mau ke mana, hingga kelak kita akan tinggal di mana. Semua sudah kita pikirkan bersama. Bahkan, kedua orang tua pun sudah menunjukkan dukungannya.

Namun, mau dikata apa. Tidak selamanya hidup berjalan sesuai dengan rencana kita. Bukan, bukan kamu yang salah. Bukan pula rasa sayangku yang tiba-tiba hilang entah kemana. Memang akunya saja yang masih butuh waktu untuk memantapkan segalanya.

Sekali lagi aku tegaskan, kamu tidak salah apa-apa. Hanya aku yang baru menyadari bahwa walaupun kita bersama, namun kita menuju arah yang berbeda. Kita memiliki tujuan yang sekilas nampak sama, namun tidak sejalan pada kenyataannya.

Sudahlah, sayang. Mari kita ikhlaskan segalanya. Tidak perlu kita lupakan rencana yang telah kita buat sebelumnya. Cukup jadikan semuanya sebagai pelajaran, untuk ke depannya. Agar aku dan kamu dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya.

Aside

Perpisahan

kata kata perpisahan kata kata kukatakan

Aku tidak pernah suka dengan perpisahan, sebab hanya terdapat dua kemungkinan. Menjadi yang meninggalkan, atau menjadi yang ditinggalkan.

Ku kira, menjadi yang meninggalkan itu lebih mudah. Kau hanya butuh mengucapkan kata pisah, lalu kau dapat melanjutkan hidupmu seperti biasa. Tanpa ada beban yang tersisa.

Karena ketika kau menjadi yang ditinggalkan, kau harus berkutat dengan segala kesedihan, dan kerap kali menyalahkan keadaan. Bahkan, melihat keadaanmu sendiri pun membuatmu kasihan.

Namun, ternyata aku keliru. Menjadi yang meninggalkan pun tidak semudah itu. Sebelum membuat keputusan, kau harus menguras otakmu. Setelahnya pun, kesedihan turut menghantuimu.

Sekarang, aku mendapatkan sebuah pelajaran. Tidak peduli siapa yang ditinggalkan, atau siapa yang meninggalkan. Selalu ada nyeri di dada di setiap perpisahan.

Aside

Tulisan Pertama Setelah “Libur” Beberapa Tahun

Halo, teman-teman!

Sudah lama banget ya aku ngga pernah main-main ke blog ini hehe. Aku pun ngga tau kenapa ini tiba-tiba pingin banget update blog. As impulsive as i am, huh :)))

Terakhir aku nge-blog itu November 2012. Selama aku ngga nge-share cerita di sini, udah banyak banget hal yang aku lewatin.

Jadi, aku udah lulus dari Vokasi Komunikasi, Universitas Indonesia! YEY!!! Di belakang namaku udah ada A.Md.Kom-nya, neeeeeh~ Udah 2 tahun yang lalu juga sih sebenernya. Tapi yaudah lah, ya. Namanya juga baru update, gapapa kan kalau euphoria-nya rada telat. Ehe.

2 tahun mah telat banget, woy! Bukannya rada telat lagi!

Oh iya, maaf maaf. Dilanjutkan lagi pamernya gapapa, ya~

PSX_20160607_002608
Ekspresi abis wisudaan, yuhu~
20140830_162954_1
Ini sama Mama Papa. Iya, fotonya begini doang karna Papa udah rewel minta pulang.
20140830_170809_1
Aulia Rahmiwulan: pacar perempuanku. Ngga bisa ngebayangin lah kalau perkuliahanku ngga ada dia :)))
PSX_20160607_002836
Geng penjelajah Margonda :)))
1409155462215
Keluarga Vokasi Komunikasi – Public Relations Universitas Indonesia 2011.

Hm.. too bad. Kadina ngga bisa nemenin aku wisuda karna saat itu dia lagi di-opname. Jadi ya, gitu lah.

Setelah lulus dari UI, aku langsung melanjutkan kuliah di Universitas Persada Indonesia YAI. Lumayan ya, boook! Biasanya dari rumah ke kampus tinggal ngesot doang, sekarang ya jauh banget :)))

IMG-20150404-WA0012
Anak-anak penunggu kantin YAI.

PSX_20160607_003133

PSX_20160607_003007
Kalau ini, rombongan penunggu belakang gedung YAI :)))

Mereka adalah keluarga baru ku di YAI. Iya, aku kuliah di sini emang lebih banyak mainnya daripada belajarnya. Maafin :))) Tapi aku ngga pernah nyesel sih kuliah di YAI. Aku seneng karna bisa kenal dan menghabiskan waktu sama anak-anak anjing menyenangkan ini.

Sampai sekarang, aku masih berusaha untuk mendapatkan gelar sarjana dari kampus gajelas keren ini. Semoga dilancarkan, ya, biar bisa cepet-cepet keluar dari sana ahahaha.

Selama hampir 2 tahun terakhir ini, aku mempelajari cukup banyak hal. Misalnya, banyak sekali orang yang bilang:

  • Lo yakin dari UI malah lanjut kuliah ke YAI? Bego ya, lo? Sayang dong gelar lo, masa dari kampus bagus malah lanjutin ke kampus abal-abal.
  • Lo kenapa lulus D-3 ngga langsung kerja aja, sih?
  • Emangnya ngga malu, ya, liat temen-temen lo yang lagi pada meniti karier, tapi lonya masih gini-gini aja?

Well, masih banyak komentar lain yang cukup mengganggu, ini cuma garis besarnya. Sebenernya sih aku yakin, niat mereka bicara kayak gitu pasti baik. Tapi kadang cara penyampaiannya aja yang bikin aku merasa dipojokkan. Jadi, mari dibahas satu per satu.

Oh iya, sedikit sanggahan. Aku bukan tipe orang yang mendewakan UI, yang menganggap UI sebagai kampus paling bagus sejagat raya. Ngga, ngga gitu. Aku cuma menulis tentang komentar orang lain ke aku.

Pertama, aku punya alasan untuk lebih memilih melanjutkan kuliah daripada kerja, pun alasan untuk memilih YAI sebagai kampusnya. Apa semua orang harus tahu? Ngga. Cukup orang-orang terdekat aja yang aku ceritakan, sisanya cukup dijawab dengan senyuman. Atau kadang malah aku ikutan mereka untuk mengejek diriku sendiri, karna ini lah cara paling ampuh untuk menghindarkan diri dari kebaperan saat dicengin. Ahaha! Tapi kadang, bego-begoin diri sendiri emang menyenangkan, kok. Asal jangan sering-sering, ya!

Kedua, masalah malu atau ngga ketika temen-temen yang lain sedang sibuk meniti karier, sedangkan aku masih begini-gini aja. Sejujurnya, iya. Sebelum orang lain bicara kayak gini pun, nyatanya, aku udah memikirkan ini sejak awal. Aku pun sempat merasa drop, dan jadi semakin drop ketika ada orang lain yang bicara kayak gini. Tapi lama-kelamaan aku sadar, ngga ada gunanya juga aku bandingin hidup aku sama orang lain. Ngga ada gunanya kalau aku terlalu memikirkan omongan orang lain. Toh biasanya, yang paling ribet berkomentar adalah mereka yang ngga akrab sama aku. Kenapa gitu? Karna yang akrab sudah cukup mengerti, jadi mereka merasa tidak perlu untuk berkomentar lebih banyak lagi.

Hal-hal penting yang aku pelajari adalah, ngga semua hal yang aku pikirkan itu pantas untuk dipikirkan. Ngga semua hal yang aku pertanyakan, harus aku dapatkan jawabannya saat itu juga. Sebab terkadang, kita harus berikan kesempatan kepada waktu untuk membuktikan jawabannya.

Ngga ada gunanya kalau aku cuma memikirkan sesuatu, tanpa berbuat apa-apa. Apalagi kalau aku mikir, terus bete dan jadi bad mood untuk melakukan sesuatu. Lha, kewajibanku jadi keteteran, dong? Hell, no!

Karena itu, sekarang aku selalu berusaha untuk mengurangi pikiran-pikiran dalam hal yang kurang penting dan lebih memfokuskan diri untuk berusaha yang lebih nyata. Misalnya, usaha mengerjakan skripsi sebaik mungkin supaya bisa cepet selesai dan cepet lulus. Usaha mencari pekerjaan sampingan supaya bisa punya uang jajan tambahan. Usaha memperbaiki diri supaya bisa jadi istri yang baik agar cepet kamu lamar. E..eh! Poin terakhir kayaknya out of context, ya. Maaf, maaf, keceplosan.

Intinya, buat kalian yang baca tulisan ini, itu pun kalau memang ada orang lain yang baca tulisan ini selain aku. *krai* Kalian berhak menentukan jalan hidup kalian masing-masing. Biarkan saja orang lain mau berkomentar apa, cukup biarkan mereka dengan segala pikiran yang memenuhi kepalanya. Tidak semua komentar perlu kalian pikirkan. Selama mereka yang berkomentar bukanlah orang-orang yang membiayai hidup kalian, baiknya komentar mereka cukup direspon dengan senyuman agar tidak memperumit keadaan. Kalian harus tetap fokus pada apa yang sedang kalian kerjakan, ya. Semoga hasilnya akan sesuai dengan rencana yang telah kalian buat di awal. Tetap semangat, gaes!

With love,

DRN.