Aside

Dear, My Pretty Angel

15 Mei 2012. Hari ini tepat 2 tahun peninggalan Almh. Dita Desiana Damayanti, my pretty angel. Rasanya……. Kangen gue udah bener-bener ga bisa diungkapin lagi sama kata-kata apapun, dan ga terhitung sama angka berapapun. Gue… Gatau mesti ngomong apa.

Sebenarnya, gue gamau nangis lagi. Gue gamau membuang air mata gue lagi. Karna apa? Karna gue cuma gamau air mata gue malah jadi beban buat Dita. Iya, gue tau dia udah tenang di alam sana. Dita pasti udah dapet tempat terbaik di rumah Allah, gue yakin itu. Gue tau walopun raganya Dita udah ga di dunia ini lagi, tapi jiwanya pasti masih ada di sini, di rumah ini. Di mana pun gue berada, Dita pasti selalu mengawasi gue dan menemani gue dari surga sana. Gue bener-bener yakin akan hal itu.

Tapi jujur gue akui, mungkin gue adalah orang paling munafik sedunia. Gue yang bilang ga mau nangis, tapi gue sendiri yang selalu ga bisa nahan air mata gue setiap inget masa-masa di mana Dita masih ada di sini, di samping gue. Gue bener-bener gamau, tapi rasanya gue masih belum bisa, dan belum tau kapan gue bisa berhasil ngelakuinnya. Rasanya, hati gue sakit banget. Sakit bener-bener sakit. Lebih sakit daripada dikhianati, dibohongi, ataupun diselingkuhi pacar lo sendiri. Jauh lebih sakit daripada ditinggalin gitu aja sama gebetan lo. Ya, sperti itu lah kira-kira.

Setiap inget Dita, gue selalu dibayang-bayangi rasa bersalah gue sama dia. Gue nyesel, kenapa dulu gue sia-siain Dita. Kenapa dulu gue ga bisa jagain Dita. Kenapa dulu gue sering berantem sama Dita. Kenapa gue belum bisa bahagiain Dita sampe umur terakhirnya dia. Astaghfirullah… Gue tau smua penyesalan gue ini percuma, dan ga akan berbuah apa-apa. Tapi….. Skrg gue bener-bener tau, life is short so waste it wisely.

Gue masih inget banget setiap detik yang gue lalui hari ini, di dua tahun yang lalu. Pukul setengah 4 sore, ketika gue di jalan dan dapet telfon dari Papa, dan gue berharap gue dapet kabar yang salah. Ketika gue langsung meluncur ke RS Fatmawati dengan dada yang amat sangat sesak. Ketika gue jadi anggota keluarga yang pertama kali sampe di sana. Ketika gue lihat keadaan Dita, dan masih berharap dia akan kuat melalui ini semua. Ketika gue orang yang pertama kali tau kronologisnya dari Polisi. Ketika gue yang ngurus pembayaran obat, dan persetujuan pemasangan alat segala macem. Dan sampe akhirnya, ketika gue ngerasa lupa cara menghirup oksigen di saat gue tahu bahwa Dita udah tiada. Pukul 7 malam. Di saat gue ngerasa ini semua hanyalah mimpi buruk, dan gue pingin cepet-cepet bangun dan kembali ke hidup gue yang indah. Astaghfirullah….

Dek, maafin Kak Dika ya. Aku tau dulu aku banyak banget bikin salah sama kamu, makanya aku bener-bener minta maaf ya, sayang. Maafin Kak Dika yang masih suka cengeng dan nakal sampe bikin Mama Papa marah. Maafin Kak Dika yang belum bisa bahagiain Mama Papa. Kamu pasti sedih dan kecewa ya liat kelakuan Kak Dika dari surga sana? Skali lagi aku minta maaf ya, dek.

Aku gatau mesti bilang apa lagi. Aku yakin kamu pasti tau sebrapa besar rasa kangen dan rasa sayang aku sama kamu. Terima kasih untuk smua pembelajaran yang udah kamu kasih ke aku ketika kamu pergi, dek. Thank you for being the best part of my past. You are the best lil-sissy I’ve ever had. I do really love you till the end of my breath. Keep shining from heaven, my pretty angel! Xoxo!

With a thousand love,
DRN.

Advertisements
Aside

All about My Precious King

20120402-061815.jpg

20120402-060221.jpg

Sejak kecil, aku merasa bangga dan sangat bahagia memiliki sosok kakek seperti Beliau. Ya… Beliau lah satu-satunya sosok kakek yang aku kenal, karena kakek dari Papa telah meninggal sebelum aku sempat mengenalnya. Beliau adalah Mbah Enes. Laki-laki tegas, bijaksana, sabar, penyayang, humoris, dan sosok laki-laki paling sempurna yang pernah aku temui di dunia ini.

Ya. Beliau mampu hidup bahagia dan selalu bersyukur dalam kesederhanaannya. Beliau selalu mengutamakan perasaan orang lain dibandingkan kepentingan pribadinya. Entah itu kerabat dekat, tetangga, atau siapapun itu. Semua orang menghormatinya, dan selalu menganggap beliau adalah “teman”.

Bagi ku pribadi, Mbah Enes adalah sosok pengajar kehidupan terhebat kedua, setelah pengalaman. Entah kenapa, sejak kecil, aku selalu merasa terenyuh ketika mendengar wejangan dari beliau. Aku selalu merasa senang ketika datang ke rumahnya dan disambut dengan senyum dan sapaan hangat, yang tak lupa diiringi kecupan di kedua pipi dan dahi ku. Aku selalu merasa tenang dan nyaman, ketika aku berbaring di pangkuannya, sambil merasakan belaian hangat beliau di kepala ku. Aku selalu merasa malu, ketika beliau mengatakan akulah cucunya yang paling pintar, di saat nilai-nilai raport ku sangatlah buruk. Beliau sangatlah tahu, bagaimana caranya membuat aku bangga menjadi diriku sendiri, di saat paling terpuruk ku sekalipun.

Aku tahu, mungkin Mbah Enes hanyalah manusia biasa. Namun bagiku, beliau adalah sosok malaikat yang dapat mengetahui segala seluk beluk kesalahan yang pernah aku perbuat. Entah kenapa, aku selalu merasa beliau dapat mengetahui segala seluk beluk dalam diriku, ketika beliau melihat dalam ke kedua mataku. Ya. Tatapan beliau memang sangat tajam, namun lembut dan penuh kasih sayang.

Aku selalu berjanji pada diriku sendiri, bahwa kelak aku harus menjadi wanita sukses yang dapat membanggakan orang-orang disekitarku, terutama Mbah Enes. Aku harus bisa menjadi orang yang berguna bagi orang lain, dan sosok yang dapat diandalkan seperti beliau. Dan salah satu cita-cita terbesarku sebelum membiayai Mama & Papa beribadah haji adalah, membiayai Mbah Enes & Mbah Titi beribadah haji, minimal umrah. Namun sayang, Allah berkehendak lain. Mbah Enes telah pulang ke rumah-Nya di saat aku belum menjadi apa-apa. Gagal sudah impian terbesarku. Sedih.

Di saat aku masih sekolah, Mbah Enes selalu memotivasiku untuk lanjut ke PTN, terutama UI. Alasannya karena tidak ada satupun anak dari beliau yang berhasil kuliah di sana, makanya beliau ingin aku sebagai cucunya memenuhi keinginannya. Dan Alhamdulillah, aku berhasil. Beliau terlihat sangat bahagia ketika aku memberi kabar itu. Aku senang, akhirnya bisa mewujudkan salah satu permintaan kecil darinya.

Sebagai motivasiku, aku selalu berkata kepada diriku sendiri bahwa aku harus mengajak Mama, Papa, Mbah Enes, Mbah Titi, dan Kak Dina untuk menemaniku di saat aku wisuda menjadi Sarjana. Mereka, orang-orang terdekatku, harus menyaksikan langsung acara itu. Namun nyatanya, di saat aku masih menjadi mahasiswa tingkat awal di program D-3, Mbah Enes telah tiada. Motivatorku… Impian terbesarku…..

Ya, aku tahu, hidup harus terus berjalan ke depan. Walaupun aku sangat merasa ada yang hilang dalam hidupku, namun aku tidak bisa berhenti sampai di sini. Perjuanganku masih panjang. Aku masih harus berjuang menggapai mimpi-mimpiku, karena aku yakin Mbah Enes masih terus mengawasiku dari surga sana bersama Dita.

Mbah Enes, maafin Kak Dika yang masih suka cengeng. Maafin Kak Dika yang masih suka nakal. Maafin Kak Dika yang masih suka nggak nurut sama Mama Papa. Maafin Kak Dika yang masih suka malas belajar. Maafin Kak Dika yang nggak terlalu perhatiin Mbah Titi. Maafin Kak Dika ya, Mbah. Kak Dika sayang banget sama Mbah Enes. Bimbing aku terus ya, Mbah. Semoga Mbah selalu tenang dan bahagia di surga Allah sana bersama Dita ya, Mbah. Aamiin. Keep shining from heaven, My Precious King. Aku selalu berdoa, semoga aku diberikan suami yang berakhlak dan bersifat baik seperti Mbah Enes. Aamiin. Assalamualaikum, Mbah. I’ll always love you till the last of my breath <3

20120402-061823.jpg

Aside

Ungkapan seorang adik

Namanya Dina Yuslita. Gadis cantik jelita yang lahir pada 23 Agustus 1989 sebagai anak pertama. Ia lahir sekitar 5 tahun sebelum aku menyusulnya, dan aku merasa sangat beruntung telah memilikinya.

Bagaimana tidak? Ia, anak sotoy yg slalu ingin tahu. Berwatak keras, dan slalu ingin dapatkan apa yg ia mau. Selalu berusaha untuk jadi yang terbaik, sekuat yang ia mampu. Ingin agar orang-orang tersayangnya, dalam penjagaannya selalu. Benar-benar hebat, kakak tercintaku.

Ia bukanlah malaikat yang tak luput dari dosa. Bukan pula PSK yang kotor dan sangat hina. Namun ia adalah Dina. Wanita (beranjak) dewasa dengan segala pengalaman hidupnya, yang selalu ia jadikan acuan dalam perubahannya. Habis gelap terbitlah terang, itu lah perumpaannya.

Mungkin sekarang, masih banyak yang membicarakan keburukannya. Namun aku yakin, akan ada saatnya banyak orang yang mengagumkan dirinya.

Mungkin sekarang, masih banyak yang mengucilkannya. Namun aku yakin, akan ada saatnya ia menunjukkan kesuksesannya.

Mungkin sekarang, Ia belum jadi apa-apa. Namun aku yakin, akan ada saatnya ia jadi pengusaha kaya.

Teruslah berkembang, hai kakak sipitku! Yakinkan dunia, bahwa kau bisa lebih berhasil dibanding prediksiku! Maafkan aku, yang selama ini sering cuek kepadamu. Di balik diamku, sungguh banyak kata yang tak sanggup terucap untukmu. Maafkan aku yang hanya bisa mengungkapkannya dalam barisan kata-kata yang sekilas nampak seperti lagu. Aku harap, semoga Tuhan selalu memberkatimu, menyayangimu, menjagamu dan mengasihimu. Seperti yang selama ini selalu kupanjatkan kepada-Nya, hanya untukmu.

With a countless love,

DRN, your sissy♡