Perempuan Berinisial A

Perempuan Berinisial A

Sekitar Agustus atau September 2011, aku memulai perkuliahan di salah satu kampus kawasan Depok – Jawa Barat. Saat itu aku belum punya teman yang layak disebut dengan teman, karena rasanya semua orang hanya sekadar kenalan yang kebetulan mengambil kelas atau jurusan sama dengan aku.

Sampai di satu siang aku pergi ke warung nasi padang di dekat kampus, hendak membeli lauk untuk makan siang. Sepotong telur dadar, dua ribu rupiah harganya. Sayangnya sang pemilik warung tidak mempunyai uang kembali, dan aku tidak mempunyai uang recehan. Saat itu ada perempuan ini, orang yang sekelas sama aku, akhirnya dia menawarkan diri untuk menggunakan uangnya dulu. Aulia namanya, perempuan berambut panjang berwarna hitam dengan badan yang cukup ramping.

Dari dua ribu rupiah untuk membeli telur dadar, ternyata menjadi awal untuk kami saling berteman. Sungguh awal yang receh dan murahan.

Siang itu kami mengobrol cukup banyak. Akhirnya aku tau kalau kami mengambil jurusan yang sama, dan dia berasal dari sekolah mana. Saat membicarakan tentang SMA pun cukup lucu. Ada satu titik saat dia menyebutkan nama sekolahnya di kawasan Jakarta Timur, yang kebetulan aku pun punya beberapa teman yang bersekolah di sana. Lalu Aulia tiba-tiba bertanya, “Lo kenal sama Si Anu juga ngga?”

Lalu kujawab santai, “Oh, Si Anu. Iya, kenal. Dulu gue pernah jalan sama dia.”

“Hah, jalan? Kok bisa?”

“Ya, dulu temen gue sempet mau comblangin gue sama dia, tapi ternyata ngga cocok. Jadinya ya udah, ngga lanjut. Jalan aja biasa.”

Lalu wajah Aulia mendadak pucat dan sedikit gugup. Ternyata Si Anu yang sedang dibicarakan itu, adalah mantan pacarnya yang baru saja putus saat menjelang lulus SMA. Mantan yang masih hangat-hangatnya. Aku hanya tertawa, dan tawaku pun semakin pecah saat dia sempat mengira kalau aku dan Si Anu jalan saat mereka masih pacaran. Padahal mah periodenya beda, maliiiiiih!

Sejak siang itu hingga tiga tahun masa perkuliahan, selalu kami habiskan bersama. Kebetulan kami berdua memiliki kebiasaan yang agak mirip. Tidak terlalu suka keramaian, tidak terlalu nyaman dengan pergaulan yang terkesan mengelompok, dan seringkali malas untuk terlalu lama bersosialisasi di kampus. Tidak jarang kami berbohong untuk menghindari teman-teman di kampus agar dapat segera pulang, supaya aku bisa bertemu dengan temanku di luar dan dia bisa segera pulang untuk melanjutkan drama Korea yang sedang dia tonton.

Kebetulan kami sama-sama agak clingy dan mungkin terlalu nyaman dengan satu sama lain. Tidak heran kalau sebagian orang seringkali melihat kami dengan tatapan jijik. Jalan hampir selalu sambil bergandengan, duduk sebelahan sambil saling bersandar, dan ngga jarang kami ndusel-ndusel sambil ngendus ketek bergantian. Ditambah, saat itu kami sama-sama tidak memiliki pacar. Di saat teman-teman yang lain sibuk berpacaran dan kami hanya sibuk berduaan, cukup menimbulkan pertanyaan semacam, “kalian tuh lesbian, ya? Pacaran?” dan kami hanya tertawa terbahak-bahak.

Aulia termasuk orang yang cukup sabar menghadapi aku dan kecerobohanku. Hampir setiap hari, terutama saat kami ada kelas pagi, dia selalu rajin meneleponku. Memastikan aku ngga lupa untuk datang ke kelas. Tidak jarang aku memulai hari dengan obrolan di telepon semacam,

A: “Lo di mana? Gue udah sampai kampus.”

D: “Hah? Ini gue baru bangun tidur..”

A: “Gila lo, ya? CEPETAN MANDI, GUE UDAH DI KELAS! KAN MULAI JAM 8!”

Ya.. dengan posisi rumah Aulia yang cukup jauh dari kampus dan kemampuannya untuk bangun pagi, sangat berbanding terbalik dengan aku yang tinggal sangat dekat dari kampus dan cukup sulit untuk bangun pagi. Hal ini seringkali membuat dia kesal karena menganggap aku terlalu santai, tapi dia selalu dengan sabar meneleponku di hampir setiap pagi.

Jika tidak ada kegiatan kampus atau tugas yang harus segera diselesaikan, kegiatan kami sehabis kuliah pun jarang bermanfaat. Hanya makan sushi di Takarajima, jalan-jalan tanpa tujuan di Margo City, pergi makan di Warung Pasta, membeli barang-barang kurang penting di Kober, atau pergi ke perpustakaan kampus untuk makan mi ayam. Hanya gitu-gitu terus tapi berulang setiap hari.

Setelah kami lulus, otomatis kebiasaan yang kami lakukan pun berubah drastis. Jarang bertemu, jarang mengobrol, tapi selalu memberitahukan kabar satu sama lain. Setidaknya kami tau, perubahan kebiasaan itu tidak lantas mengubah hubungan pertemanan kami. Masih tetap sosok yang sama, di hubungan pertemanan yang sama, yang hanya terpisah oleh jarak dan kesibukan masing-masing saja.

Mungkin tidak banyak orang yang benar-benar kuanggap teman dan kehadirannya cukup berarti di hidup aku, tapi Aulia termasuk salah satu dari sosok itu. Dia baik, selalu riang, sabar, dan cukup tenang saat menghadapi masalah. Sosok teman yang tidak judgy dan selalu mendengarkan. Dia pun cukup suportif atas apapun yang aku lakukan, walaupun ngga jarang aku mengambil langkah yang bodoh dan ceroboh. Mungkin fisiknya terlihat lemah, tapi aku tau kalau Aulia adalah sosok yang tegar dan ngga pantang menyerah.

She join in on my weirdness since day one, and I can’t really thank God for that.

Advertisements

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s