Kecemasan Si DDGMZ.

Kecemasan Si DDGMZ.

Di sela-sela kesibukanku menjadi pengangguran, aku menemukan salah satu artikel yang cukup membuat aku kepikiran. Saking kepikirannya, aku sampai lupa buat mikirin kamu. Eeh… Okay, lanjut!

Jadi, artikel yang aku maksud adalah ini, dan bisa diakses di sini:

jdl

Ngeri ngga, tuh?

Sebagai DDGMZ (baca: Dedek Gemas) yang termasuk ke dalam generasi milenial, aku sih cukup kepo ya pas lihat judulnya. Masa iya aku terancam ngga bisa beli rumah? Lha, terus mau tinggal di mana? Akhirnya, ngga pakai lama, aku langsung baca artikel tersebut.

p1

*merinding*

Kalau aku sih cukup cemas ya pas baca artikel ini. Kenapa, gitu? Ya… sekarang gini. Sebagai warga asli Jakarta yang tumbuh kembang di Jakarta karena emang ngga boleh merantau juga, aku pengin banget nantinya bisa punya rumah sendiri di sini. Kan ngga mungkin dong aku bakal mengandalkan orang tuaku terus. Lagipula gampangnya gini, deh. SIAPA SIH YANG NGGA MAU PUNYA RUMAH SENDIRI?

Okay, fokus.

Jadi, katanya, prediksi peningkatan harga rumah dalam lima tahun mendatang tuh sekitar 150%. Dalam periode yang sama, kenaikan pendapatan itu hanya sekitar 60%. Imbang, ngga? Yak, jawabannya ngga. Ngga seimbang sama sekali. Perbandingannya aja lebih dari dua kali lipat, ya!

Berdasarkan fakta tersebut, tahun 2021 mendatang generasi milenial dikhawatirkan ngga mampu beli rumah. Terus DDGMZ kayak aku gini mau tinggal di mana, Om? OM TELOLET, OM!

Atas nama rasa penasaran yang semakin ke ubun-ubun, akhirnya aku coba cari tahu tentang harga properti yang paling update di Jakarta. Hasilnya adalah….

rmx1

Keyword-nya apasih biar yang muncul ngga semahal ini?

rmx2

Udah seneng liat ada yang mursidah, ternyata DISEWAKAN!

*pijat-pijat kepala*

Aku yakin, pasti ini karena aku salah masukin keyword. Pasti masih ada harga rumah yang lebih murah. Pasti! #GenerasiOptimis

Tapi, ya… menurut artikel tadi, untuk dapat mencicil rumah dengan harga Rp 300 juta, dibutuhkan pendapatan minimal Rp 7,5 juta per bulan. Okay, masalahnya gini. Dalam 5 tahun ke depan, masih ada ngga tuh rumah yang harganya 300 jutaan dengan lokasi yang masih masuk akal? Terus dengan adanya peningkatan harga rumah dan kenaikan pendapatan yang tidak seimbang itu, berarti harus punya pendapatan berapa nih biar mampu beli rumah? *bengong di pojokan*

“Lokasi masuk akal” yang dimaksud di sini sih masih bicara dari sudut pandang aku sebagai orang yang memiliki mobilitas di Jakarta, ya. Kayaknya aku udah mulai ngerti deh kenapa rumah di Depok, Tangerang, dan Bekasi itu diminati banget. Ternyata perbandingan harganya cukup jauh. Selama ini tuh aku ngga pernah tau tentang harga properti di Jakarta dan sekitarnya, karena, ya.. masih kurang peduli aja. Bener-bener baru kali ini aku memang niat cari tahu tentang info properti dan *BOOM* ternyata pusing ya kalau dibayangin doang. LOL!

Yaudah lah, ya.. daripada aku makin sotoy ngalor-ngidul ngga jelas ke mana-mana, yang padahal mah ngga ngerti juga, mending udahan aja. Intinya, sekarang aku sadar kalau pengelolaan keuangan itu penting banget, udah harus jadi prioritas dan diperhatikan dengan lebih serius. Pokoknya mah aku harus tetap optimis, demi bisa punya rumah yang cukup untuk memelihara jerapah di Jakarta!

852110761_92576_11153907283694737660
Panutanku <3

Ya.. daripada sibuk mengkafir-kafirkan orang yang berbeda agama, mendingan sibuk memikirkan cicilan rumah. :p

Advertisements