Teruntuk, Kamu

Teruntuk, Kamu

break-up

Teruntuk, kamu. Terima kasih karena telah bersedia untuk menghabiskan waktumu bersamaku. Waktu yang tidak dapat dikatakan singkat, namun juga tidak cukup lama. Yang pasti, cukup banyak peristiwa yang patut dikenang selamanya.

Teruntuk, kamu. Terima kasih karena telah bersedia untuk memberikan telingamu, sebagai tempat untuk aku mencurahkan segala keluh kesahku. Tanpa mengenal lelah, tanpa mengenal waktu.

Teruntuk, kamu. Terima kasih karena telah bersedia untuk berusaha menuruti segala keinginanku. Dari keinginan bodoh hingga keinginan teranehku. “Kamu mau apa lagi?” adalah kalimat yang selalu keluar dari bibirmu.

Teruntuk, kamu. Terima kasih karena telah hadir sebagai sosok yang selalu ada untukku. Di hari-hari paling bahagiaku, hingga malam-malam terburukku. Hampir selalu ada kamu di situ, untuk sekadar menemaniku.

Teruntuk, kamu. Ku harap kamu bersedia untuk memaafkan segala kesalahanku. Yang tidak mampu menjadi sosok terbaik bagimu, dan tidak mampu pula untuk menemanimu selalu.

Bukan karena aku sudah tidak memiliki perasaan yang sama kepadamu.

Bukan pula karena ada orang lain yang lebih menarik perhatianku.

Maafkan aku yang tidak mampu membalas segala kebaikanmu. Tidak pula dapat menuturkannya satu per satu. Yang aku tahu, kamu adalah sosok terbaik yang telah mengisi hari-hariku. Seorang pria yang paling sabar dan paling tahan menghadapi segala tingkah anehku.

Terima kasih, kamu.

Advertisements
Hidup itu Lucu, Ya?

Hidup itu Lucu, Ya?

animals-black-white-couple-grunge-Favim.com-3322229

Hidup itu lucu, ya?

Kita dipertemukan dalam suatu keadaan yang tidak disengaja. Di keramaian, dimana kita hanya bisa saling menatap sebentar saja. Saling bertukar nama, lalu kembali mengerjakan kegiatan masing-masing setelahnya. Tidak ada yang spesial, hanya dua anak manusia yang saling berkenalan tanpa ada maksud apa-apa.

Waktu terus berjalan. Aku dengan kegiatanku, dan kamu dengan kesibukanmu. Kita sama-sama tidak tahu kalau kita akan dipertemukan lagi dalam keadaan yang tidak kalah lucu. Aku dengan kesakitanku, dan kamu dengan kebimbanganmu. Akhirnya keadaan pun menggiring kita hingga menjadi satu.

Berbagi kesenangan dan kesedihan bersama. Tanpa memedulikan masa lalu yang ada di belakang kita. Karena yang kita pedulikan hanyalah aku dan kamu, bersama. Menghabiskan waktu yang kita punya dengan sebaik-baiknya.

Sudah cukup banyak rencana yang telah kita punya. Baik sekadar besok mau ke mana, hingga kelak kita akan tinggal di mana. Semua sudah kita pikirkan bersama. Bahkan, kedua orang tua pun sudah menunjukkan dukungannya.

Namun, mau dikata apa. Tidak selamanya hidup berjalan sesuai dengan rencana kita. Bukan, bukan kamu yang salah. Bukan pula rasa sayangku yang tiba-tiba hilang entah kemana. Memang akunya saja yang masih butuh waktu untuk memantapkan segalanya.

Sekali lagi aku tegaskan, kamu tidak salah apa-apa. Hanya aku yang baru menyadari bahwa walaupun kita bersama, namun kita menuju arah yang berbeda. Kita memiliki tujuan yang sekilas nampak sama, namun tidak sejalan pada kenyataannya.

Sudahlah, sayang. Mari kita ikhlaskan segalanya. Tidak perlu kita lupakan rencana yang telah kita buat sebelumnya. Cukup jadikan semuanya sebagai pelajaran, untuk ke depannya. Agar aku dan kamu dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya.