Sopir Kopaja dan Kondekturnya

Sopir Kopaja dan Kondekturnya

Di salah satu pagi saat aku hendak ke kantor, aku sedang berdiri di halte sambil menunggu dijemput oleh ojek online. Banyaknya orang yang berlalu-lalang, ramainya kendaraan yang mengantre di jalan, dan segala hiruk-pikuk kegiatan khas pagi di hari kerja masih membuatku cukup takjub dengan ketahanan orang dewasa yang hidup di Jakarta. Hingga ada satu kejadian yang cukup menarik perhatian.

Ada salah satu bus Kopaja yang sedang berhenti di halte untuk mencari penumpang. Sopirnya nampak sedang asyik menghisap rokok sambil menyandarkan lengan di jendela, dan seorang kondektur yang berdiri di depan pintu bus sambil meneriakkan rute perjalanannya. Bus itu berhenti cukup lama di depan halte, hingga membuat jalanan di sekitarnya semakin padat. Tidak lama kemudian, datang seorang polisi yang menghampiri sang kondektur. Menegur dengan sangat baik, memintanya pergi meninggalkan halte sebab busnya telah menyebabkan kemacetan, namun sang kondektur malah menjawabnya dengan kasar.

Pak Polisi nampak kesal. Respons yang sangat wajar, menurutku. Pak Polisi membalas berteriak ke Pak Kondektur sambil memukul bus dengan pentungan, lalu berteriak ke Pak Sopir agar pergi meninggalkan halte. Pertengkaran antara Pak Polisi dengan Pak Kondektur pun tidak dapat dihindarkan. Mereka saling berteriak dan beradu argumen, namun Pak Sopir nampak masih menyandarkan lengannya di jendela; tetap santai dan asyik menghisap rokoknya, seakan tidak sedang terjadi apa-apa. Pun tetap tidak memindahkan posisi busnya.

Tidak lama setelah beradu argumen yang nampaknya tidak membuahkan hasil, Pak Polisi pun pergi meninggalkan Kopaja itu. Menghampiri bus lain yang turut berhenti di halte tersebut, mengekor di belakang Kopaja yang kumaksud, yang akhirnya semakin menambah kemacetan. Pak Polisi nampak sibuk menegur para kondektur bus untuk mengurai kemacetan, dan dia bertugas sendirian.

Tidak lama berselang, sopir Kopaja yang sejak awal kuperhatikan itu dihampiri oleh petugas Dishub yang langsung marah-marah dengan kasar dan memintanya untuk menunjukkan surat-surat kendaraan. Pak Kondektur langsung berlari untuk menghampiri mereka, nampak membela Pak Sopir dengan bersikeras dan tidak kalah kasarnya. Perdebatan nampak cukup alot. Di tengah perdebatan tersebut, Pak Polisi kembali menghampiri mereka. Keributan semakin tidak dapat dihindarkan. Pak Kondektur nampak semakin terpojok karena harus beradu argumen dengan dua orang petugas; Dishub dan Polisi, lalu omelan tersebut akhirnya berpindah ke Pak Sopir.

Pak Sopir nampak sudah menghabiskan rokoknya. Dia menegakkan posisi duduknya di balik setir; tidak lagi menyandarkan lengan seperti yang sejak awal dia lakukan, dan menyiapkan surat-surat kendaraan yang diminta oleh petugas. Teriakan yang cukup kasar dari Pak Polisi dan Pak Dishub pun masih saling bersahutan. Kali ini Pak Sopir yang posisinya cukup terpojok. Di tengah keributan tersebut, Pak Kondektur nampak menjauh perlahan dari para petugas, lalu naik ke bus Kopaja lain yang langsung pergi meninggalkan lokasi dengan cepat.

Iya, Pak Kondektur meninggalkan Pak Sopir sendirian. Padahal, dia yang sejak awal memulai keributan dengan para petugas karena memberikan jawaban yang cukup kasar dan memancing amarah.

Tidak lama kemudian, ojek online yang aku pesan pun datang menjemput. Setelah menggunakan helm, akhirnya aku pergi menjauh dari halte bus itu. Duduk di motor menuju ke kantor sambil memperhatikan jalanan, kembali memikirkan ulang kejadian yang aku lihat di halte tadi, lalu rasanya aku dapat menyimpulkan satu hal.

Orang yang mungkin kita anggap paling dekat, nyatanya dapat menancapkan pisaunya di punggung kita dengan lebih erat.

Perempuan Berinisial A

Perempuan Berinisial A

Sekitar Agustus atau September 2011, aku memulai perkuliahan di salah satu kampus kawasan Depok – Jawa Barat. Saat itu aku belum punya teman yang layak disebut dengan teman, karena rasanya semua orang hanya sekadar kenalan yang kebetulan mengambil kelas atau jurusan sama dengan aku.

Sampai di satu siang aku pergi ke warung nasi padang di dekat kampus, hendak membeli lauk untuk makan siang. Sepotong telur dadar, dua ribu rupiah harganya. Sayangnya sang pemilik warung tidak mempunyai uang kembali, dan aku tidak mempunyai uang recehan. Saat itu ada perempuan ini, orang yang sekelas sama aku, akhirnya dia menawarkan diri untuk menggunakan uangnya dulu. Aulia namanya, perempuan berambut panjang berwarna hitam dengan badan yang cukup ramping.

Dari dua ribu rupiah untuk membeli telur dadar, ternyata menjadi awal untuk kami saling berteman. Sungguh awal yang receh dan murahan.

Siang itu kami mengobrol cukup banyak. Akhirnya aku tau kalau kami mengambil jurusan yang sama, dan dia berasal dari sekolah mana. Saat membicarakan tentang SMA pun cukup lucu. Ada satu titik saat dia menyebutkan nama sekolahnya di kawasan Jakarta Timur, yang kebetulan aku pun punya beberapa teman yang bersekolah di sana. Lalu Aulia tiba-tiba bertanya, “Lo kenal sama Si Anu juga ngga?”

Lalu kujawab santai, “Oh, Si Anu. Iya, kenal. Dulu gue pernah jalan sama dia.”

“Hah, jalan? Kok bisa?”

“Ya, dulu temen gue sempet mau comblangin gue sama dia, tapi ternyata ngga cocok. Jadinya ya udah, ngga lanjut. Jalan aja biasa.”

Lalu wajah Aulia mendadak pucat dan sedikit gugup. Ternyata Si Anu yang sedang dibicarakan itu, adalah mantan pacarnya yang baru saja putus saat menjelang lulus SMA. Mantan yang masih hangat-hangatnya. Aku hanya tertawa, dan tawaku pun semakin pecah saat dia sempat mengira kalau aku dan Si Anu jalan saat mereka masih pacaran. Padahal mah periodenya beda, maliiiiiih!

Sejak siang itu hingga tiga tahun masa perkuliahan, selalu kami habiskan bersama. Kebetulan kami berdua memiliki kebiasaan yang agak mirip. Tidak terlalu suka keramaian, tidak terlalu nyaman dengan pergaulan yang terkesan mengelompok, dan seringkali malas untuk terlalu lama bersosialisasi di kampus. Tidak jarang kami berbohong untuk menghindari teman-teman di kampus agar dapat segera pulang, supaya aku bisa bertemu dengan temanku di luar dan dia bisa segera pulang untuk melanjutkan drama Korea yang sedang dia tonton.

Kebetulan kami sama-sama agak clingy dan mungkin terlalu nyaman dengan satu sama lain. Tidak heran kalau sebagian orang seringkali melihat kami dengan tatapan jijik. Jalan hampir selalu sambil bergandengan, duduk sebelahan sambil saling bersandar, dan ngga jarang kami ndusel-ndusel sambil ngendus ketek bergantian. Ditambah, saat itu kami sama-sama tidak memiliki pacar. Di saat teman-teman yang lain sibuk berpacaran dan kami hanya sibuk berduaan, cukup menimbulkan pertanyaan semacam, “kalian tuh lesbian, ya? Pacaran?” dan kami hanya tertawa terbahak-bahak.

Aulia termasuk orang yang cukup sabar menghadapi aku dan kecerobohanku. Hampir setiap hari, terutama saat kami ada kelas pagi, dia selalu rajin meneleponku. Memastikan aku ngga lupa untuk datang ke kelas. Tidak jarang aku memulai hari dengan obrolan di telepon semacam,

A: “Lo di mana? Gue udah sampai kampus.”

D: “Hah? Ini gue baru bangun tidur..”

A: “Gila lo, ya? CEPETAN MANDI, GUE UDAH DI KELAS! KAN MULAI JAM 8!”

Ya.. dengan posisi rumah Aulia yang cukup jauh dari kampus dan kemampuannya untuk bangun pagi, sangat berbanding terbalik dengan aku yang tinggal sangat dekat dari kampus dan cukup sulit untuk bangun pagi. Hal ini seringkali membuat dia kesal karena menganggap aku terlalu santai, tapi dia selalu dengan sabar meneleponku di hampir setiap pagi.

Jika tidak ada kegiatan kampus atau tugas yang harus segera diselesaikan, kegiatan kami sehabis kuliah pun jarang bermanfaat. Hanya makan sushi di Takarajima, jalan-jalan tanpa tujuan di Margo City, pergi makan di Warung Pasta, membeli barang-barang kurang penting di Kober, atau pergi ke perpustakaan kampus untuk makan mi ayam. Hanya gitu-gitu terus tapi berulang setiap hari.

Setelah kami lulus, otomatis kebiasaan yang kami lakukan pun berubah drastis. Jarang bertemu, jarang mengobrol, tapi selalu memberitahukan kabar satu sama lain. Setidaknya kami tau, perubahan kebiasaan itu tidak lantas mengubah hubungan pertemanan kami. Masih tetap sosok yang sama, di hubungan pertemanan yang sama, yang hanya terpisah oleh jarak dan kesibukan masing-masing saja.

Mungkin tidak banyak orang yang benar-benar kuanggap teman dan kehadirannya cukup berarti di hidup aku, tapi Aulia termasuk salah satu dari sosok itu. Dia baik, selalu riang, sabar, dan cukup tenang saat menghadapi masalah. Sosok teman yang tidak judgy dan selalu mendengarkan. Dia pun cukup suportif atas apapun yang aku lakukan, walaupun ngga jarang aku mengambil langkah yang bodoh dan ceroboh. Mungkin fisiknya terlihat lemah, tapi aku tau kalau Aulia adalah sosok yang tegar dan ngga pantang menyerah.

She join in on my weirdness since day one, and I can’t really thank God for that.

Bluebell, FTV yang Dilayarlebarkan

Bluebell, FTV yang Dilayarlebarkan

PSX_20180401_164716

Kamis minggu lalu, tepatnya 29 Maret 2018, aku diundang ke Gala Premiere film Bluebell di CGV Blitz Grand Indonesia. Acaranya terlaksana dengan rapi, bisa dilihat dari ramainya audiens namun tidak berdesak-desakkan. Di depan pintu masuk CGV disediakan beberapa meja registrasi untuk menukarkan undangan dengan tiket beserta kupon merchandise dari Alexandre Christie. Meja registrasi dibagi menjadi beberapa antrean, yaitu untuk undangan, media, dan pemenang kuis. Pun banyak kru yang tersebar dan siap untuk membantu mengarahkan kita, sehingga tidak terjadi antrean yang mengular ataupun menunggu terlalu lama.

Dari banyaknya audiens yang hadir di acara malam itu, tidak sedikit wajah-wajah yang familiar di dunia hiburan Indonesia. Misalnya, Mas Anggy Umbara sang sutradara hits nampak hadir bersama istrinya. Ada juga Samuel Zylgwyn (bener gini ngga sih nulis namanya?) yang setia mendampingi Franda, istrinya yang sedang hamil besar dan turut mengisi OST di film Bluebell. Selain itu, aku pun sempat berpapasan dengan Siti Badriah yang penyanyi dangdut itu, Marcell Darwin yang ganteng itu, Rangga Dewamoela yang mantan personel Sm*sh itu, dan masih banyak lagi. Aku tidak mungkin hapal ih saking ramainya orang di sana.

Salah satu hal yang aku acungkan jempol dari Gala Premiere Bluebell adalah pemutaran film yang cukup tepat waktu. Sebelumnya aku diinformasikan kalau film akan dimulai pukul 8 malam. Aku pikir akan terlambat, seperti acara-acara sebelumnya. Eh, sebelum pukul 8 pun aku dan para penonton lain sudah dipersilakan masuk ke dalam teater, dong! Tanpa menunggu terlalu lama, para sutradara, produser, dan cast pun langsung menyapa kami sebelum akhirnya film diputar. Wow. Cukup kaget aku, tuh.. Mungkin ini perihal sepele, tapi menurut pengalamanku, biasanya tuh bisa tertunda hingga 20-30 menit sendiri. Mantap lah timnya Bluebell!

Tapi, ya.. Kenapa sih kok aku bisa-bisanya bilang kalau Bluebell itu FTV yang dilayarlebarkan?

Baik, selain bahas acaranya, mari kita bahas filmnya..

Menurut aku, Bluebell merupakan film yang ringan namun tetap menghibur. Lokasi syutingnya di Bali dan Tokyo, jadi cukup terbayang dong pemandangan sebagus apa yang ditampilkan sepanjang film? Visualisasinya tuh apik tenan, asli. Warnanya ca’em banget, hebat lah kalau bisa nonton Bluebell tanpa ada rasa pengin ke Bali.

Kalau dari sisi cerita, menurutku sih ya biasa saja, ringan banget. Cerita-cerita yang mudah ditebak dan lumayan sering diangkat ke FTV, tidak ada konflik yang cukup berarti. Mungkin karena film ini memang ditujukan untuk dedek-dedek gemes usia belasan tahun yang memang beneran masih gemes kali, ya.. Bukan mbak-mbak gemes yang setengah muda namun hampir tua kayak aku. Menariknya adalah karakter Bluebell digambarkan sebagai seorang peselancar, di mana film di Indonesia nampaknya masih jarang yang mengangkat kehidupan peselancar. Secara garis besar, menurutku film Bluebell tetap menghibur, setidaknya untuk tuna asmara yang merindukan romansa remaja. Intinya, film ini tuh simple, sweet, dan colourful.

Love isn’t something you find. Love is something that finds you.

Satu pesanku untuk kamu yang merasa sudah cukup dewasa dan pengin nonton film ini: jangan berharap tinggi-tinggi, atau menunggu konflik yang mindblowing. Jangan. Sudah lah, mending nikmatin saja filmnya. Kalau kamu merasa, “dih, kok receh banget sih?!” monmaap, mungkin usia kamu sudah tidak termasuk ke dalam dedek gemes lagi. Jadi yaudah lah, ya..

Pemilihan cast-nya kebanyakan artis-artis muda yang masih terbilang baru di industri layar lebar Indonesia, atau mungkin memang akunya saja yang kurang aware sama mereka. Misalnya ada Regina Rengganis, Qausar Harta Yudana, Ncess Nabati, Rafael Tan, sama Gibran Marten. Coba nih coba, dari lima nama yang aku sebutkan barusan, siapa saja yang kalian sudah tau eksistensinya di dunia hiburan? Coba tolong tinggalkan komentar di bawah, kalau kamu berkenan.

Jujur-jujuran saja nih, ya. Mungkin akunya saja yang kurang menonton televisi, atau mereka yang masih kurang terkenal, tapi beberapa pemerannya tuh memang tidak familiar untuk aku. Ibaratnya nih, sebelum ada film Bluebell, ya aku sama sekali tidak tahu soal eksistensi orang itu. Yah, gimana.. Gibran Marten saja sempat aku kira YoungLex.

Ya habis gimana, beberapa cast tuh aktingnya masih kaku dan ada beberapa dialog yang menurutku lumayan mengganggu. Contohnya gini, lho: mood penonton sudah lumayan enak dan terbawa sama filmnya, terus tiba-tiba buyar cuma karena dialog yang terlalu baku, atau akting yang terlalu kaku. Contoh lainnya ada nih salah satu pemeran perempuan, yang tidak perlu disebutkan lah kalau namanya Stefhanie Zamora. Pas awal sih keliatan cantik banget gitu, eh pas dia ngomong malah buyar dong, dan pas akting nangis juga malah makin buyar, mendingan dia diam saja deh kayaknya.. Gitu gitu lah. Kalau buat FTV saja mah, Bluebell ini bisa dibilang sudah bagus banget. Tapi kalau untuk film layar lebar, ya seharusnya masih bisa lebih bagus lagi dari ini.

Tapi yaa terlepas dari itu semua, original soundtrack-nya Bluebell tuh enak-enak semua. Tipe-tipe lagu yang easy-listening dan lumayan mudah untuk menempel di kepala. Coba deh kamu cari di Spotify atau YouTube, dengarkan semua lagunya lalu diulang 2-3 kali. Serius deh, cobain! Paling kamu jadi bersenandung lagu itu mulu, kayak aku.

Nah, kan.. Habis bahas lagu, aku jadi teringat sesuatu.

Di Gala Premiere film Bluebell, ada hal yang cukup menyita perhatian aku, yaitu fans-nya Qausar Harta Yudana alias TimSar! Asli euy, mereka tuh rame banget, seru lah pokoknya. Pas aku pengin foto bareng sama Qausar aja, antrenya lama banget. Asli ini mah bukannya aku lebay, tapi memang lama banget menunggu TimSar pada foto bergantian kan semacam tidak berujung, ya.. Aku yang cuma hempasan debu ini mah ya gimana, cuma bisa diam di pojokan sambil berharap bisa dapat giliran. Huhu untung akhirnya aku bisa foto bareng sama Qausar.

Tapi, ya.. kalau dilihat dari segitu banyaknya jumlah TimSar yang militan banget itu, ditambah pemeran lain yang kebanyakan idola dedek gemes di Instagram, kayaknya sih film Bluebell bisa mencapai 100.000 penonton, deh. Mungkin, ya.. prediksi sotoy aku saja. Tapi kalau untuk lebih dari 100.000 penonton pun ya aku masih belum yakin, toh film ini memang masih banyak kekurangannya.

Kalau diperhatikan dalam beberapa tahun terakhir, menurut opiniku pribadi, film Indonesia mengalami peningkatan kualitas yang cukup signifikan. Coba perhatikan deh seberapa banyak film lokal yang viral kayak Dilan, Posesif, Love for Sale, Warkop DKI Reborn, sampai Pengabdi Setan. Ayat-Ayat Cinta 2 juga deh, sekalian.. Menurut aku, film-film itu bisa viral bukan cuma karena timnya sudah menyusun kampanye dengan baik, atau cuma karena punya budget besar untuk membayar influencer kawakan, tapi memang karena kualitas filmnya yang berbicara. Kan katanya mah maha benar netizen dengan segala cuitannya..

Tapi ya terlepas dari itu semua, ada baiknya kita terus mendukung perfilman Indonesia, salah satunya ya dengan menonton film lokal di bioskop. Jangan malah mencari streaming-an, atau nebeng temen yang ke bioskop biar bisa ikutan nonton sambil video call-an. Jangan, ya..

Perihal Kesedihan

Perihal Kesedihan

Untuk kamu yang sedang dilanda kebimbangan, jangan pernah takut untuk menentukan pilihan. Jangan terlalu pedulikan omongan orang tentang kamu harus begini-begitu, sebab kamu lah yang lebih tahu tentang apa yang kamu butuh dan mau.

Untuk kamu yang sedang dilanda kesedihan, jangan biarkan dirimu terpuruk dan dikuasai oleh rasa penyesalan. Sebab selalu ada pelajaran di balik semua kesedihan dan kesakitan.

Akan ada kalanya segala hal yang kamu tangiskan, akan menjadi bahan tertawaan. Akan ada kalanya segala air mata yang kamu teteskan, akan berubah menjadi sumber kebahagiaan.

Menyanyi lah, jika kamu merasa butuh hiburan. Menangis lah, jika kamu merasa tangisanmu dapat melegakan pikiran. Mengeluh lah, jika kamu merasa beban itu tidak dapat dipikul sendirian. Keluar lah, jika kamu merasa butuh pelukan. Berlari lah, jika kamu merasa butuh waktu untuk sendirian. Bicara lah, jika kamu merasa butuh pertolongan.

Satu hal yang harus selalu kamu yakinkan: semua hal akan berjalan dengan baik-baik saja. Kamu mungkin merasa lelah, namun kumohon, jangan pernah menyerah. Bersabarlah, segala permasalahan pasti dapat kamu temukan jalan keluarnya.

Anggap saja masalahmu itu hanya batu sandungan. Jangan biarkan mereka merenggut semua senyuman. Kamu berhak berbahagia, Sayang. Tunjukkan senyuman indahmu kepada semua orang. :)

Relationship itu Rumit

Relationship itu Rumit

Akhir-akhir ini, di saat saya sudah menyelesaikan kuliah dan masih malas belum bekerja, membuat saya memiliki sangat banyak waktu luang. Hal ini membuat saya seringkali melamun, memikirkan hal remeh-temeh seperti mau makan apa, ke mana saya akan pergi, hingga bagaimana cara ikan tidur. Lamunan saya tidak berhenti di situ. Saya juga kerap kali membayangkan masa depan yang warnanya masih abu-abu, seperti apa yang akan saya lakukan setelah lulus kuliah, tipe pekerjaan seperti apa yang sekiranya akan membuat saya betah, apakah saya akan tetap tinggal di Jakarta atau merantau seperti yang saya impikan sejak masih sekolah, hingga apakah saya akan mampu menemukan seseorang yang bersedia menghabiskan waktunya bersama saya hingga tua.

Beberapa hari yang lalu, di saat saya sedang sibuk berselancar di timeline Twitter, saya menemukan salah satu tulisan baru milik Bara yang berjudul Mencungkil Peluru dan Bertahan Hidup. Dapat diakses di sini. Jujur, tulisan itu cukup membuat saya tersedak lalu tersenyum getir. Saya berkali-kali bergumam “been there, done that” hingga akhirnya saya memutuskan untuk membuat tulisan ini.

“Mencintai adalah satu hal, berada dalam relationship hal lain. Kamu tidak bisa cuma bermodal cinta untuk punya hubungan langgeng sampai mati.” – Bernard Batubara

Kalimat tersebut membuat saya berteriak “setuju!” di dalam hati. Untuk sebagian orang, “mencintai tidak harus memiliki” hanyalah kalimat bagi para pecundang yang tidak mampu memperjuangkan perasaannya. Namun menurut saya, banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk berada dalam relationship, karena bermodal cinta tidaklah cukup. Misalnya, suku dan agama saling berkaitan dengan restu orangtua. Belum lagi perihal pekerjaan, jika hubungan tersebut memang diarahkan ke jenjang yang lebih serius dari sekadar pacaran. Serta hal yang sangat mendasar seperti sifat dan kebiasaan, yang akan memengaruhi kecocokan antarindividu dalam menjalankan hubungan.

Segala pertimbangan tersebut membuat relationship menjadi perihal yang rumit, setidaknya bagi saya. Saya pernah berada pada hubungan yang tidak mendapatkan restu orangtua, baik dari pihak saya maupun pasangan saya di saat itu. Saya pernah ditinggalkan tanpa diberikan penjelasan, saya berkali-kali mengalami pengkhianatan, bahkan saya pernah menjalani hubungan yang rasanya memiliki harapan di masa depan, namun nyatanya kandas pun.

Hal-hal seperti ini membuat saya menyadari bahwa ada hal yang salah dalam diri saya, sebab semua hal yang terjadi pasti merupakan sebab-akibat. Mungkin saya belum siap untuk berada dalam relationship, mungkin masih banyak hal yang perlu saya pelajari sebelum memulai relationship, atau mungkin masih banyak hal lain yang lebih besar dan perlu saya perhatikan daripada sekadar relationship. Mungkin, semua poin yang baru saja saya uraikan hanya hasil dugaan saya semata. Saya pun tidak tahu persisnya seperti apa.

“Tidak ada yang lebih melegakan daripada membuang racun di tubuhmu. Kamu juga harus paham jangan-jangan kamu yang jadi racun bagi dia. Jika kamu telah menyadarinya dengan baik, jangan berlama-lama. Segera lepaskan. Kamu tidak berhak memerangkap seseorang yang kamu cintai dalam hubungan yang tidak membuatnya bertumbuh, begitu pula sebaliknya.” – Bernard Batubara


Note: Tulisan ini sudah mengendap di draft sejak September 2016, namun baru sempat saya publikasikan. Telat banget, ya. LOL!